Angklung: Alat Musik Tradisional Indonesia
Kata "angklung" berasal dari bahasa Sunda "angkleung-angkleung" yang menggambarkan gerakan pemain mengikuti irama. Sedangkan "klung" merujuk pada bunyi yang dihasilkan alat musik ini.
Struktur dan Bahan Pembuatan
Angklung terbuat dari tabung bambu berukuran berbeda yang menghasilkan nada ketika digoyangkan. Untuk menciptakan melodi, angklung dimainkan secara berkelompok. Jenis bambu yang umum digunakan adalah bambu hitam (Awi wulung) atau bambu ater (Awi temen) yang berwarna kuning keputihan ketika kering. Setiap angklung terdiri dari 2-4 tabung bambu yang diikat dengan rotan.
Teknik Bermain
Memainkan angklung cukup sederhana:
- Kerulung (Getar) - Menggetarkan kedua tangan ke kiri-kanan secara berulang
- Centok (Sentak) - Menarik tabung dengan cepat untuk menghasilkan bunyi pendek
- Tengkep - Menahan salah satu tabung sambil menggetarkan yang lain
Jenis-jenis Angklung
- Angklung Kanekes - Khas suku Baduy, digunakan dalam upacara tanam padi
- Angklung Reog - Pengiring tari Reog Ponorogo dengan nada sederhana
- Angklung Dogdog Lojor - Untuk ritual pertanian masyarakat Banten
- Angklung Badeng - Dari Garut, awalnya untuk pertanian kemudian dakwah
- Angklung Padaeng - Versi diatonik modern oleh Daeng Soetigna tahun 1938
Perkembangan Modern
Angklung Padaeng merupakan revolusi dengan sistem nada diatonik, memungkinkan kolaborasi dengan alat musik modern. Dikembangkan lebih lanjut oleh Handiman Diratmasasmita dan disebarkan oleh Udjo Ngalegena.

Download



